Olahraga Bukan Arena Politik Oleh: Joan Berlin Damanik,S.Si,MM

POJOKREDAKSI.COM – Belakangan ini, wacana pelarangan atlet asal Israel berlaga di Indonesia kembali menimbulkan perdebatan publik setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan imbauan agar pemerintah tidak memberi izin partisipasi bagi atlet dari negara tersebut.

Alasan yang dikemukakan didasarkan pada sikap politik dan keprihatinan atas konflik kemanusiaan yang menimpa rakyat Palestina. Meski niatnya baik, pendekatan seperti ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah etis jika dunia olahraga dijadikan panggung politik?

Pada hakikatnya, olahraga merupakan sarana pemersatu umat manusia di atas segala perbedaan. Di arena pertandingan, atlet datang bukan membawa ideologi politik, melainkan semangat sportivitas, kerja keras, dan rasa hormat kepada lawan. Jika politik terus diseret ke ranah olahraga, maka nilai luhur yang melekat pada dunia olahraga seperti fair play, solidaritas, dan perdamaian akan luntur dan kehilangan maknanya.

Sejarah telah menunjukkan bahwa olahraga mampu menjadi jembatan di tengah ketegangan global. Pada masa Perang Dingin, misalnya, atlet dari Amerika Serikat dan Uni Soviet tetap saling berkompetisi secara sportif di Olimpiade, walau kedua negara itu berseteru secara politik dan ideologis. Fakta tersebut menegaskan bahwa olahraga adalah wadah persaudaraan, bukan perpecahan.

Sementara itu, sikap menolak kehadiran atlet dari negara tertentu justru dapat menimbulkan dampak negatif terhadap citra Indonesia di dunia internasional. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan perdamaian. Apabila keikutsertaan atlet ditolak karena faktor politik negaranya, dunia bisa memandang bahwa Indonesia belum sepenuhnya siap untuk menjunjung profesionalisme di kancah olahraga global. Bahkan, keputusan semacam itu dapat berimplikasi pada hilangnya peluang Indonesia menjadi tuan rumah berbagai ajang internasional di masa depan.

Tidak dapat disangkal bahwa penderitaan rakyat Palestina adalah tragedi kemanusiaan yang menyentuh nurani banyak bangsa. Namun, solidaritas terhadap Palestina sebaiknya diwujudkan melalui langkah diplomatik, kerja sama kemanusiaan, atau dukungan di forum internasional, bukan melalui tindakan diskriminatif di dunia olahraga. Kompetisi seharusnya menjadi ruang membangun persahabatan antarbangsa, bukan ajang mempertegas perbedaan politik.

Baca Juga :  Pangdam I/BB; Olahraga Ampuh Tingkatkan Imunitas

MUI tentu memiliki niat tulus dalam menyuarakan keprihatinan terhadap Palestina. Namun, perlu dipahami bahwa mencampurkan isu politik dengan olahraga justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan mengorbankan nilai universal olahraga itu sendiri. Pemerintah dan masyarakat sebaiknya bersikap bijak dengan tetap memisahkan kedua ranah tersebut.

Indonesia akan jauh lebih dihormati jika tetap konsisten dalam menegakkan semangat perdamaian melalui jalur yang konstruktif, bukan dengan pelarangan. Menunjukkan sportivitas dan keterbukaan terhadap semua bangsa justru menjadi wujud dukungan moral yang lebih elegan bagi perdamaian dunia.

Penutup
Olahraga sejatinya adalah ruang untuk menumbuhkan semangat kemanusiaan, bukan arena pertarungan politik. Jika terus dicampuradukkan, maka pesan perdamaian yang ingin kita perjuangkan akan kehilangan substansinya.

Sudah sepatutnya olahraga dijaga sebagai ruang yang netral, profesional, dan menjadi simbol persatuan umat manusia.  

(Penulis : Seorang akademis, Pemerhati Lingkungan dan Sosial. Coach Karate)

Yuk! baca artikel menarik lainnya di GOOGLE NEWS
Atau ikuti saluran Pojokredaksi.com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZI37C5fM5j3NDDF61G

POJOKREDAKSI.COM

Related Posts

Pojok WA