
Jakarta, POJOKREDAKSI.COM – Lagu “Sepasang Mata Bola” kembali bergema di kediaman Proklamator Mohammad Hatta, Jalan Diponegoro 57, Senin (16/2/2006). Peluncuran buku memperingati 100 tahun kelahiran Rahmi Hatta digelar dalam suasana hangat dan khidmat, dihadiri keluarga serta sejumlah tokoh nasional.
Gemala Hatta dalam sambutannya mengungkapkan bahwa lagu ciptaan Ismail Marzuki itu disebut terinspirasi dari sosok Rahmi. “Rahmi memiliki mata bulat yang bersinar. Ia bukan hanya cantik, tetapi juga cerdas dan berwawasan luas,” ujarnya. Lagu tersebut, menurut keluarga, menjadi bagian dari memori sejarah yang melekat pada perjalanan hidup Rahmi dan Bung Hatta.
Acara peluncuran buku dirangkaikan dengan pameran benda-benda pribadi Rahmi Hatta. Ruang pamer berukuran sederhana, hanya beberapa meter persegi, namun menampilkan koleksi yang mencerminkan karakter Rahmi sebagai pribadi intelektual dan pencinta seni. Foto-foto keluarga tertata rapi. Buku-buku dengan tulisan tangan Rahmi dalam bahasa Belanda dipajang terbuka. Sertifikat kelas bahasa dan album kegiatan masa mudanya turut melengkapi dokumentasi.

Salah satu bagian yang menarik perhatian pengunjung adalah kisah pertemuan Rahmi dan Bung Hatta dengan pelukis kenamaan Basuki Abdullah. Dalam kunjungan ke studionya, pasangan tersebut ditawari potret Bung Hatta dan sketsa Rahmi. Namun karena prinsip hidup sederhana yang mereka pegang, hanya satu karya yang akhirnya dibeli. Sketsa Rahmi kini tersimpan di Museum Basuki Abdullah dan menjadi bagian dari koleksi museum tersebut.
Meutia Hatta dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa ibunya gemar membaca karya sastra dunia seperti Shakespeare dan Gone With The Wind, serta karya-karya Myra Sidharta. Rahmi juga dikenal tekun mempelajari bahasa asing dan menikmati pertunjukan seni. Dalam berbagai kesempatan, ia mengenakan batik dan kain tradisional sebagai bentuk kecintaannya pada budaya Indonesia.
Selain membaca, Rahmi memiliki kebiasaan menggunting kliping dari surat kabar dan menyusunnya dalam album. Hobi tersebut menjadi sarana relaksasi sekaligus cara memperluas wawasan. Album-album itu kini menjadi arsip berharga yang merekam minat dan perhatian Rahmi terhadap berbagai isu dan peristiwa.
Peluncuran buku ini dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh publik, di antaranya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Guntur Soekarnoputra, Cri Puspa Dewi Motik, Miranda Swaray Goeltom, Siti Fadilah Supari, serta Fadel Muhammad.
Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan bahwa Rahmi Hatta tidak hanya dikenang sebagai istri Wakil Presiden pertama RI, tetapi juga sebagai figur perempuan terdidik yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan, budaya, dan pengembangan diri.
Melalui peluncuran buku ini, keluarga berharap generasi muda dapat mengenal Rahmi Hatta secara lebih utuh- sebagai pribadi yang sederhana, berwawasan luas, dan konsisten menjaga nilai-nilai kebudayaan di tengah dinamika sejarah bangsa. (Graece Tanus)