
Opini, POJOKREDAKSI.COM
Oleh : Joan Berlin Damanik,SSi, MM
(Akademisi Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli dan Pemerhati Kebijakan Pemerintah)
Ada sebuah keadaan yang tidak masuk akal, bertentangan dengan logika (absurditas) yang hanya mungkin lahir dari negara yang lupa siapa yang membesarkan masa depanny. Sebuah negeri yang begitu dermawan kepada kemiskinan, tetapi pelit luar biasa kepada profesi yang mendidik anak-anaknya. Negeri yang menyuapi yang tidak bekerja, tetapi membiarkan guru honorer mengemis di tengah ruang kelas.
Mari Kita Bicara Jujur: Siapa Sebenarnya yang Lebih “Layak” Dihargai?
Di satu sisi, ada barisan penerima bantuan sosial yang mendapatkan ratusan ribu rupiah hingga jutaan setiap bulan. Negara tidak meminta mereka mengajar, tidak meminta mereka membimbing generasi, tidak menugasi mereka membuat RPP atau membetulkan puluhan lembar ulangan. Mereka hanya perlu hadir saat pencairan dana dengan menyiapkan foto Kopi KTP, tanda tangan, dan membawa uang pilang kerumah.
Di sisi lain, ada guru honorer:
Sarjana.
Mengajar puluhan jam.
Menyusun perangkat pembelajaran yang ribet.
Mengatur kelas seperti psikolog, polisi, sekaligus perawat dadakan.
Mengisi administrasi yang seolah tak pernah selesai.
Dan tetap dipaksa tersenyum demi “pengabdian”.
Dan untuk semua itu, negara dengan bangga memberikan Rp400.000 per bulan mulai 2026. Jumlah yang bahkan kalah dari uang jajan bulanan anak SMP di kota.
Dunia Terbalik Bernama Kebijakan Sosial
Coba renungkan logika ini:
Tidak bekerja → bisa dapat jutaan + sembako + fasilitas tambahan.
Mengajar anak bangsa → dibayar 400 ribu + dicabut hak anak untuk mendapat KIP.
Benar.
Anak guru honorer tidak berhak menerima bantuan pendidikan.
Alasannya? Karena orang tuanya dianggap punya pekerjaan.
Punya pekerjaan?
Kalau itu pantas disebut pekerjaan, maka uang lelah panitia lomba 17 Agustus seharusnya masuk kategori gaji formal negara. Kita seperti hidup di negara yang memberi hadiah bagi mereka yang tidak ada kontribusi produktifnya, dan memberi hukuman bagi mereka yang justru menopang peradaban.
Guru: Diminta Menjadi Malaikat, Dibayar Seperti Bayangan
Masyarakat menuntut guru menjadi teladan moral—jujur, disiplin, beretika, sabar, bijak, penuh integritas. Guru harus menjadi panutan, pembentuk karakter, penjaga masa depan bangsa.
Pertanyaannya:
Bagaimana negara berani menuntut martabat dari profesi yang bahkan tidak dihargainya?
Sejak kapan kita mengharapkan malaikat, tetapi menggajinya seperti bayangan?
Pesan Tersirat yang Sangat Kasar
Kebijakan ini mengirimkan pesan yang tidak diucapkan, tetapi begitu jelas bunyinya:
“Kalau mau dibantu, jangan bekerja. Kalau tetap mengajar, jangan banyak menuntut.”
Dan ketika ada guru honorer berani mengkritik, jawaban sinis itu sudah kita hafal:
“Penerima PKH aja cuma dapat 600 ribu. Kamu kerja dapat 400 ribu. Negara udah baik.”
Ini bukan sekadar logika yang cacat—ini penghinaan.
Karena kenyataan pahitnya, di mata kebijakan, lebih menguntungkan menjadi miskin yang pasif daripada miskin yang mendidik.
Prestasi Ironis Bangsa Ini
Negeri ini berhasil menciptakan ironi yang, kalau bukan tragis, mungkin lucu:
Gaji guru < bantuan sosial.
Anak guru tidak berhak atas bantuan pendidikan.
Negara berharap guru tetap berintegritas, tetap sabar, tetap profesional—padahal negara sendiri tidak profesional memperlakukan mereka.
Dan semua ini terjadi sambil kita memamerkan slogan-slogan mulia tentang “masa depan emas”, “generasi unggul”, “SDM berkualitas”.
Lucunya, masa depan emas itu diserahkan kepada orang-orang yang dipaksa bertahan hidup dengan upah yang bahkan kalah dari uang rokok bulanan di warung.
Kalau Ini Bukan Bentuk Penghinaan, Apa Lagi?
Pada akhirnya, mari kita jujur:
Negeri yang mengurus kemiskinan dengan penuh kasih, tetapi mengurus guru dengan penuh pengabaian, adalah negeri yang sedang menabung bencana masa depannya sendiri. Dan jika memperlakukan guru seperti ini tidak dianggap penghinaan, mungkin kita sudah tidak mengenal lagi arti kata “hormat”.
Yuk! baca artikel menarik lainnya di GOOGLE NEWS
Atau ikuti saluran Pojokredaksi.com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZI37C5fM5j3NDDF61G