Ad Widget

Demo Bubarkan Laskar 88 Bukan untuk Demokrasi

Ad Widget

POJOKREDAKSI.COM – Beberapa hari yang lalu, Manggarai kembali dihebohkan dengan aksi masa dari Aliansi Masyarakat Peduli Demokrasi Manggarai (AMPD-M). Kelompok tersebut memiliki afiliasi terhadap pendukung petahana Deno Madur (DM). Mereka turun ke jalan menuntut pembubaran laskar 88.

Masa pendemo tersebut menilai kehadiran laskar 88 telah merusak marwah demokrasi di Manggarai. Selain itu mereka mengklaim bahwa seruan pembubaran laskar 88 adalah murni dari rakyat yang ingin agar roda demokrasi berjalan dengan semestinya di Manggarai.

Dalam orasi yang mereka lakukan di Lapangan Motang Rua Ruteng, Manggarai menyebutkan Laskar 88 adalah kelompok yang anarkis. Orasi tersebut juga mengukapkan keprihatinan mereka atas peristiwa penghadangan terhadap Yeni Veronika di Ketang, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai pada Minggu (29/11/2020) malam pukul 12.00 Wita oleh Laskar 88.

AMPD-M Nabi Demokrasi

Ambisi meluruskan demokrasi yang sudah dianggap morat-marit memang merupakan sebuah niat suci dari politik, karena politik itu adalah suci. Apalagi itu adalah memiliki niat untuk membangun sebuah daerah seringkali diberhangus oleh cara kerja demokrasi yang palsu.

Suara-suara terhadap demokrasi yang suci memang merupakan suara minor yang kerap diabaikan. Itu bagaikan sebuah lantunan lagu yang merdu di tengah lautan manusia yang bising, berteriak, penuh amarah dan suara-suara licik. Kelompok yang memperjuangkan demokrasi inipun jumlahnya kecil. Mereka kerap disandera oleh kelompok yang lebih besar yang memiliki kepentingan sesaat.

Turunnya kelompok AMPD-M yang terbentuk secara sepontan dengan tujuan meluruskan demokrasi yang dinilai sudah bengkok di Manggarai. Dalam versi mereka Manggarai diambang darurat demokrasi terutama hadirnya Laskar 88 di Manggarai.

Karena itu, mereka berani bangkit untuk mengaum agar kelompok-kelompok yang ademokrasi harus hati-hati dan perlu mawas diri. Mereka juga sangat berani menyerukan pembubaran terhadap Laskar 88 sebagai bentuk tanggungjawab demokrasi itu sendiri.

Gerakan AMPD-M sebagai nabi demokrasi mesti diapresiasi. Meskipun demikian karena kelompok ini sama-sama dilemparkan di ruang demokrasi (bersama laskar 88) maka perlu adanya upaya saling memantau dan menguji sebagai bentuk dari demokrasi itu juga.

Selain pujian-pujian tersebut terhadap AMPD-M perlu diingatkan juga di tengah demokrasi begitu banyak kelompok yang bangkit dari tidurnya yang begitu panjang. Mereka hadir bahkan menjadi nabi palsu demokrasi. Munculnya nabi-nabi palsu demokrasi bukan barang baru bahjan sering terjadi sepanjang sejarah demokrasi.

Biasanya kelompok seperti ini adalah mendadak muncul ke tengah publik dan menyuarakan tentang demokrasi itu sendiri. Tentu saja mereka lahir saat Pilkada. Mereka bahkan merasa bahwa diri mereka adalah obat yang mujarab di tengah mati surinya demokrasi.

Kelompok seperti ini menjadi eksklusif dan menilai saingan mereka adalah kelompok yang bertentangan dengan demokrasi. Dalam hal ini mereka merasa paling benar dan lucunya mereka mengkebiri kelompok lain yang dianggap tidak sepikir, seide atau segagasan. Apalagi jika kelompok yang mereka hadapi sangat berani mengkritisi sebuah persoalan.

Kesadaran Semu

Kelompok AMPD-M yang baru siuman ini dari pingsang yang panjang mesti melakukan gerakan ke dalam. Tujuannya adalah untuk segera mencari obat agar sungguh-sungguh sadar. Teriakan anti demokrasi terhadap kelompok tertentu seperti Laskar 88 merupakan sebuah kesadaran demokrasi yang semu.

Hal ini terutama karena AMPD-M tidak mengakomodir kepentingan seluruh masyarakat Manggarai. Bahkan kelompok ini bisa dinilai buta terhadap persoalan di Manggarai secara keseluruhan. Mereka yang tiba-tiba lahir tidak berusaha memberi tawaran yang baru dalam mengurai persoalan di Manggarai.

Tentu saja dalam orasi mereka tidak membicarkan soal jalan yang rusak, tingkat kemisikinan, stunting, air bersih, transparansi, korupsi dan lain sebagainya. Mereka hanya menginginkan Laskar 88 dibubarkan. Tuntutan itu dinilai mengembalikan kejayaan demokrasi Manggarai.

Munculnya fenomena AMPD-M pasca kejadian Yeni Veronika di Ketang selaku anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi PAN dan istri Kamelus Deno merupakan sebuah pertanyaan yang besar. Bukan suatu kebetulan, tiba-tiba setelah kejadian ini seakan-akan membentur kepala sekelompok orang lalu mendadak menjadi AMPD-M. Tidak hanya itu mereka juga mendadak mengalami kesadaran demokrasi.

Akibatnya adalah persoalan Yeni dan Laskar 88 di Ketang itu tidak memiliki kepastian. Pristiwa ini bahkan mengambang begitu saja di ruang demokrasi tanpa seorang nabi demokrasi pun (bahkan AMPD-M) berusaha membedahnya.

Bukan tidak mungkin kejadian di Ketang ini adalah sebuah pembelajaran terhadap kejadian di Pong Pahar, desa Hilihinitir Selatan, Kecamatan Satar Mese Barat. Di kampung ini Yeni, anggota dewan yang terhormat ini mengintimidasi warga agar pada Pilkada tanggal 9 Desember 2020 memilih pasangan DM.

Sikap mawas dari Laskar 88 di Ketang ini beralasan, karena mereka ingin agar roda demokrasi berjalan semestinya. Laskar 88 tentu saja tidak mau kejadian di Pong Pahar terulang. Kejadian intimidasi terhadap warga harusnya diadvokasi oleh AMPD-M jika mereka benar-benar sebuah kelompok yang mengatasnamakan demokrasi.

Fungsi kenabian mereka untuk meluruskan demokrasi yang bengkok harusnya hadir di Pong Pahar dan dimanapun itu. Bahkan mereka juga harus meluruskan sikap Yeni yang sudah salah kaprah mengajak warga melakukan pengkhianatan terhadap demokrasi.

Nabi Demokrasi itu harus menjadi penyembuh untuk seluruh masyarakat Manggarai. Bagi bonum komune! Bukan untuk melabeli kelompok lain yang dianggap tidak demokratis seperti Laskar-88. Maka AMPD-M mesti belajar banyak dari Laskar-88 yang telah berjuang dengan sungguh-sungguh melahirkan pemimpin secara demokratis di Manggarai. Dalam hal ini adalah paket yang mereka dukung yakni H2N.

Simpatisan Laskar 88

POJOKREDAKSI.COM

Related Posts

Ad Widget

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *