
POJOKREDAKSI COM – Dalam dinamika sosial-politik Indonesia, ruang publik kerap dipenuhi hiruk-pikuk politik yang lebih menonjol dibandingkan dedikasi para pendidik. Pemberitaan media hampir setiap hari menyoroti perdebatan antar politisi, isu kekuasaan, hingga kebijakan kontroversial yang memicu polemik. Sebaliknya, kiprah guru yang secara senyap membentuk masa depan generasi bangsa sering kali luput dari perhatian besar publik maupun negara.
Sejarah pembangunan bangsa-bangsa maju menunjukkan bahwa kejayaan tidak lahir dari kegaduhan politik, melainkan dari kualitas pendidikan yang ditopang oleh guru. Dari tangan merekalah lahir pemimpin yang berintegritas, ilmuwan yang melahirkan inovasi, serta generasi yang memiliki kecintaan pada tanah air. Dengan demikian, guru dapat dikatakan sebagai fondasi peradaban, sedangkan politisi hanyalah hasil dari proses pendidikan yang mereka alami.
Sayangnya, penghargaan terhadap profesi guru di Indonesia masih belum sebanding dengan peran strategis yang mereka emban. Banyak guru di sekolah swasta maupun sekolah negeri yang berada di daerah terpencil harus menerima gaji jauh di bawah standar, tanpa jaminan sosial, bahkan ada yang menunggu honor dalam jangka waktu panjang. Pada saat yang sama, politisi memperoleh fasilitas berlimpah, gaji tinggi, serta jaminan pensiun meskipun masa jabatan mereka singkat. Ketidakadilan ini mengakibatkan profesi guru sering dipandang kurang prestisius.
Kondisi ini berbeda jauh dengan praktik di sejumlah negara maju. Di Finlandia, guru dipandang setara dengan profesi dokter dan harus melewati seleksi ketat. Mereka mendapatkan penghargaan sosial, gaji memadai, dan jam kerja yang proporsional. Di Jepang, pendidik diberi kompensasi di atas rata-rata tenaga kerja serta dilibatkan dalam perumusan kebijakan pendidikan. Sementara di Singapura, pemerintah memastikan pelatihan berkelanjutan dan dukungan finansial yang layak bagi para guru. Fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa kualitas pendidikan ditentukan secara langsung oleh kualitas pendidik yang dijamin negara.
Filosofi pendidikan bangsa sesungguhnya telah lama menekankan hal serupa. Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa guru adalah figur yang patut dipercaya dan dijadikan teladan. Hal itu sejalan dengan pandangan Nelson Mandela yang menekankan bahwa pendidikan merupakan instrumen paling ampuh untuk mengubah dunia. Kedua pemikiran ini menegaskan bahwa pembangunan peradaban tidak bisa dilepaskan dari peran guru.
Apabila Indonesia bercita-cita menjadi bangsa yang disegani, maka paradigma pembangunan harus bergeser. Profesi guru perlu diposisikan sebagai pilihan karier utama bagi individu terbaik bangsa, bukan sekadar alternatif. Negara harus memberikan jaminan kesejahteraan, penghargaan sosial, serta sistem pengembangan karier yang jelas bagi pendidik. Tanpa langkah strategis tersebut, sulit mengharapkan lahirnya generasi emas yang berdaya saing tinggi.
Realitas saat ini menunjukkan bahwa jumlah politisi yang gemar membuat heboh publik jauh lebih banyak dibandingkan guru hebat yang berkualitas. Padahal, guru bukan sekadar penyampai pengetahuan, melainkan pembentuk karakter dan arah bangsa. Dari ruang kelas lahir dokter, insinyur, pengusaha, seniman, dan bahkan politisi itu sendiri. Apabila profesi guru terus dipandang remeh, maka keberlangsungan masa depan bangsa akan ikut terancam.
Kesadaran kolektif perlu dibangun bahwa kebesaran bangsa hanya dapat lahir dari guru yang berkualitas. Politik tanpa pendidikan hanyalah panggung gaduh tanpa fondasi peradaban. Oleh karena itu, memberi tempat terhormat bagi guru merupakan syarat mutlak bagi Indonesia untuk benar-benar menjadi bangsa besar. (Tentang Penulis: Joan Berlin Damanik, SSi, MM, adalah Seorang Dosen, Pemerhati isu sosial dan Lingkungan, mentor kepemudaan- kebangsaan, Coach Karate -Do Tako).
(Liber S)
Yuk! baca artikel menarik lainnya di GOOGLE NEWS
Atau ikuti saluran Pojokredaksi.com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZI37C5fM5j3NDDF61G