
Labuhanbatu Selatan, POJOKREDAKSI.COM – Gelombang protes terhadap pemadaman listrik yang terjadi hampir setiap hari di Kabupaten Labuhanbatu Selatan semakin menguat. Organisasi masyarakat GRIB Jaya secara terbuka menyuarakan keresahan warga yang merasa aktivitas mereka terganggu dan mengalami kerugian akibat gangguan listrik yang berulang.
Aksi yang dilakukan GRIB Jaya bukan sekadar demonstrasi biasa, tetapi menjadi simbol akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap layanan kelistrikan yang dinilai belum stabil. Dalam beberapa waktu terakhir, pemadaman listrik disebut terjadi dengan frekuensi tinggi, bahkan dalam satu hari bisa berlangsung lebih dari sekali di sejumlah wilayah.
Kondisi ini tidak hanya mengganggu kegiatan rumah tangga, tetapi juga berdampak pada sektor usaha kecil, perkantoran, hingga fasilitas publik. Sejumlah warga mengaku mengalami kerusakan peralatan elektronik seperti televisi, kulkas, hingga perangkat kerja akibat listrik yang sering padam dan kembali menyala secara tiba-tiba.
Menanggapi situasi tersebut, GRIB Jaya menyampaikan tiga tuntutan utama kepada pihak PLN. Pertama, mereka meminta Manajer Wilayah PLN Sumatera Utara segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan listrik di wilayah Labuhanbatu Selatan. Tidak hanya itu, mereka juga mendorong adanya langkah tegas, termasuk mempertimbangkan pergantian pimpinan di PLN ULP3 Kota Pinang jika dinilai tidak mampu mengatasi persoalan yang ada.
Tuntutan kedua menyasar kinerja perusahaan rekanan, yakni PT Haleyora Power. GRIB Jaya menilai perlu adanya evaluasi serius terhadap pihak ketiga yang terlibat dalam pengelolaan jaringan listrik. Jika ditemukan kinerja yang tidak maksimal, mereka bahkan meminta agar kontrak kerja sama diputus sebagai bentuk tanggung jawab atas pelayanan yang tidak optimal.
Sementara itu, tuntutan ketiga berkaitan langsung dengan dampak yang dirasakan masyarakat. GRIB Jaya mendesak agar PLN memberikan ganti rugi kepada warga yang mengalami kerusakan alat elektronik akibat pemadaman listrik yang berulang. Menurut mereka, hal ini penting sebagai bentuk tanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan.
Di sisi lain, pihak PLN melalui Manajer PLN ULP3 Kota Pinang, Andi Yusuf Situmeang, memberikan penjelasan terkait penyebab gangguan listrik yang terjadi. Saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, ia menyebut bahwa pemadaman tidak hanya dipicu oleh faktor eksternal, tetapi juga disebabkan oleh berbagai kendala teknis internal.
Ia menjelaskan bahwa gangguan eksternal yang kerap terjadi antara lain disebabkan oleh hewan seperti monyet yang menyentuh jaringan listrik, pohon yang tumbuh terlalu dekat dengan kabel, hingga sambaran petir. Faktor-faktor ini dapat mengganggu distribusi listrik secara tiba-tiba dan sulit diprediksi.
Namun demikian, Andi tidak menampik adanya persoalan dari sisi internal. Salah satu penyebab utama adalah kerusakan pada instalasi utama atau yang dikenal sebagai power failure. Kondisi ini sering terjadi pada peralatan jaringan yang sudah berusia lama dan membutuhkan perbaikan maupun penggantian.
Selain itu, sistem pengaman jaringan seperti ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker) juga berperan dalam pemutusan listrik secara otomatis. Sistem ini dirancang untuk melindungi jaringan dan pelanggan dari bahaya kebocoran arus listrik ke tanah. Ketika terdeteksi adanya gangguan, sistem akan langsung memutus aliran listrik sebagai langkah pengamanan.
Tak hanya itu, kondisi over voltage atau tegangan berlebih juga menjadi faktor lain yang dapat memicu gangguan. Tegangan yang tidak stabil berpotensi merusak jaringan distribusi maupun perangkat elektronik milik pelanggan, sehingga sistem pengaman akan bekerja untuk mencegah kerusakan yang lebih besar.
Menurut Andi, berbagai kendala tersebut menjadi perhatian serius pihak PLN. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam dan terus melakukan upaya perbaikan secara bertahap untuk meningkatkan keandalan jaringan listrik di wilayah tersebut.
“Kami memahami keluhan masyarakat. Oleh karena itu, kami akan terus melakukan evaluasi, perbaikan, serta penggantian peralatan yang sudah tidak layak guna meningkatkan keandalan jaringan listrik,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan komitmen PLN untuk mencari solusi jangka panjang terhadap permasalahan yang ada. Langkah-langkah pembenahan, termasuk peningkatan kualitas infrastruktur dan pemeliharaan jaringan, diharapkan dapat mengurangi frekuensi pemadaman listrik di masa mendatang.
Meski demikian, pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran masyarakat. Warga berharap adanya tindakan nyata yang bisa segera dirasakan, bukan sekadar janji perbaikan. Stabilitas listrik menjadi kebutuhan utama, terutama di era digital saat ini, di mana hampir seluruh aktivitas bergantung pada pasokan energi yang andal.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi konkret, dampaknya tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi daerah. Usaha kecil dan menengah yang bergantung pada listrik bisa mengalami kerugian berkelanjutan, sementara sektor pendidikan dan layanan publik juga ikut terdampak.
Aksi GRIB Jaya pun dinilai sebagai bentuk tekanan sosial yang wajar dalam mendorong perbaikan layanan publik. Mereka berharap tuntutan yang disampaikan tidak diabaikan, melainkan menjadi momentum bagi PLN untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh.

Di tengah situasi ini, masyarakat Labuhanbatu Selatan kini menunggu langkah nyata dari PLN. Apakah evaluasi yang dijanjikan akan benar-benar menghasilkan perubahan, atau justru keluhan serupa akan terus berulang, menjadi pertanyaan yang masih belum terjawab.
Yang jelas, keandalan listrik bukan lagi sekadar layanan tambahan, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat. Tanpa perbaikan signifikan, kepercayaan publik terhadap penyedia layanan listrik berisiko terus menurun.
(Nurhabibah)
Yuk! baca artikel menarik lainnya di GOOGLE NEWS
Atau ikuti saluran Pojokredaksi.com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZI37C5fM5j3NDDF61G