Demi Hidup Mewah, Lisa Sekap Ayah Pacarnya dan Kuras Rp2 Miliar

lisa surabaya

Surabaya, POJOKREDAKSI.COM – Kasus penyekapan lansia yang terjadi di Surabaya mengungkap sisi gelap gaya hidup mewah yang dibangun dari tindak kejahatan. Seorang perempuan bernama Lisa Andriana (31) tega menyekap Kusnandi Chandra (80), yang merupakan ayah dari kekasihnya sendiri, demi menguasai harta korban hingga mencapai sekitar Rp2 miliar.

Perempuan tersebut diduga menggunakan uang korban untuk membiayai kehidupan glamor, termasuk tinggal di hotel mewah dengan tarif jutaan rupiah per malam selama hampir satu tahun. Polisi menyebut tindakan pelaku dilakukan secara sistematis dan disertai manipulasi terhadap keluarga korban.

Kasus ini kini menjadi perhatian publik setelah aparat kepolisian berhasil membongkar lokasi penyekapan korban di sebuah apartemen kawasan Mulyorejo, Surabaya.

Hidup di Hotel Mewah dengan Uang Korban
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan menjelaskan, Lisa diketahui telah lama menjalin hubungan dengan Agus Pranoto, anak korban. Namun selama berpacaran, Lisa disebut selalu menolak tinggal di rumah kontrakan bersama Agus.

Pelaku berdalih tidak sanggup menjalani kehidupan sederhana karena harus mencuci pakaian dan melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri. Sebagai gantinya, Lisa meminta agar mereka tinggal di hotel.

“Pelaku ini pada saat berpacaran dengan anak korban seolah-olah tidak tahan tinggal di kontrakan karena harus mencuci dan sebagainya. Akhirnya meminta tinggal di hotel dengan tarif sekitar Rp2 juta per malam,” ujar Luthfie, Sabtu (9/5/2026).

Di balik gaya hidup tersebut, Agus tidak mengetahui bahwa seluruh biaya hotel dan kebutuhan hidup mewah itu ternyata berasal dari rekening ayahnya sendiri yang telah dikuasai Lisa.

Baca Juga :  Terjadi Penggrebekan Narkoba, Satu Meninggal Dunia.

Menurut polisi, Lisa berhasil memegang kartu ATM dan mengetahui PIN rekening korban dengan modus membantu pembayaran tagihan dan kebutuhan sehari-hari.

Rekening Dikuras, Emas 1 Kilogram Hilang
Penyelidikan polisi menemukan bahwa pelaku secara bertahap menguras uang di rekening korban selama hampir satu tahun. Total kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp2 miliar.

Tidak hanya uang tunai, sejumlah emas batangan dan perhiasan milik korban juga hilang dari kamar korban. Nilai emas yang raib diperkirakan mencapai berat total sekitar satu kilogram.

“ATM korban terus dipegang oleh tersangka dan dikuras sampai kurang lebih Rp2 miliar. Setelah korban kembali ke rumah, diketahui juga emas dan perhiasan yang nilainya sekitar satu kilogram emas sudah tidak ada,” jelas Luthfie.

Besarnya nilai kerugian membuat kasus ini menjadi salah satu perkara pencurian disertai penyekapan yang menyita perhatian masyarakat Surabaya dalam beberapa bulan terakhir.

Lansia Disekap di Apartemen Selama Berbulan-bulan
Aksi penyekapan disebut dimulai sejak Oktober 2025. Kusnandi dipindah-pindahkan ke sejumlah kamar apartemen di Surabaya dan tidak diberi akses komunikasi dengan keluarga maupun pihak luar.

Korban yang sudah lanjut usia itu disebut hidup dalam pengawasan ketat selama berbulan-bulan. Ironisnya, korban tidak menyadari bahwa Lisa merupakan dalang utama dalam penyekapan tersebut.

Polisi mengungkapkan, Lisa memainkan peran seolah dirinya juga menjadi korban yang ikut dikurung di lokasi berbeda. Dengan cara itu, korban tidak menaruh curiga terhadap pelaku.
Skema manipulatif tersebut berjalan cukup lama hingga keluarga mulai merasa ada yang tidak beres karena korban tidak pernah bisa dihubungi secara langsung.

Keluarga Mulai Curiga setelah Lisa Menghilang
Kecurigaan keluarga korban mulai muncul ketika Lisa tiba-tiba menghilang dan mengganti nomor telepon pada Februari 2026.

Baca Juga :  Polres Labuhanbatu Gerebek Kelurahan Padang Bulan "Susi" Serta 11 Orang Lainnya Diamankan

Saat ditanya mengenai keberadaan Kusnandi, Lisa terus memberikan jawaban yang berubah-ubah kepada Agus dan keluarga korban. Salah satu alasan yang digunakan pelaku adalah menyebut korban sedang menikmati masa tua dengan bepergian keliling Indonesia.

“Pelaku mengatakan korban sedang jalan-jalan menikmati hari tua,” kata Luthfie menirukan pengakuan Lisa kepada keluarga korban.

Jawaban tersebut sempat dipercaya keluarga karena Lisa selama ini dikenal dekat dengan korban. Namun seiring waktu, keluarga mulai merasakan kejanggalan karena tidak pernah bisa berkomunikasi langsung dengan Kusnandi.

Kondisi itu akhirnya membuat pihak keluarga melapor ke kepolisian untuk meminta bantuan pencarian.

Polisi Temukan Lokasi Penyekapan di Mulyorejo
Setelah menerima laporan keluarga, Satreskrim Polrestabes Surabaya melakukan penyelidikan intensif untuk melacak keberadaan korban.

Polisi kemudian menemukan Kusnandi berada di salah satu apartemen di kawasan Mulyorejo, Surabaya. Dari pengungkapan tersebut, Lisa berhasil diamankan pada 16 April 2026.

“Setelah dilakukan penyelidikan, akhirnya diketahui korban disekap di salah satu apartemen di Surabaya,” ujar Luthfie.

Saat ditemukan, kondisi korban disebut dalam keadaan selamat. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan tindak pidana penyekapan dan pencurian.

Dua Pelaku Lain Masih Diburu Polisi
Selain Lisa, polisi juga telah menahan seorang pembantu pelaku yang diduga ikut membantu proses penyekapan dan penguasaan harta korban.

Penyidik kini masih memburu dua pria lain yang disebut turut berperan dalam aksi tersebut. Identitas kedua orang tersebut telah dikantongi aparat kepolisian.

Para pelaku dijerat pasal berlapis dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP terkait tindak pidana penyekapan, pencurian, dan perampasan harta benda.

Kasus ini menjadi peringatan keras mengenai kejahatan terhadap lansia yang dilakukan dengan pendekatan emosional dan manipulasi hubungan keluarga.

Baca Juga :  Gara Gara Sabu, Warga Tanjung Leidong Diamankan Tim Sat Narkoba Polres Labuhanbatu

Modus Manipulasi Keluarga Jadi Sorotan
Pengamat menilai kasus ini menunjukkan bagaimana pelaku kejahatan dapat memanfaatkan kedekatan emosional untuk mendapatkan akses terhadap aset korban.

Lisa disebut tidak hanya memanfaatkan hubungan asmara dengan anak korban, tetapi juga membangun kepercayaan di lingkungan keluarga sebelum akhirnya menguasai keuangan korban secara perlahan.

Metode seperti ini sering kali membuat keluarga terlambat menyadari tindak kejahatan karena pelaku telah dianggap sebagai bagian dari lingkungan terdekat.

Polisi mengimbau masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki anggota lanjut usia, agar lebih memperhatikan aktivitas keuangan dan komunikasi korban untuk mencegah kejadian serupa.

(Sigit Santoso)

Yuk! baca artikel menarik lainnya di GOOGLE NEWS
Atau ikuti saluran Pojokredaksi.com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZI37C5fM5j3NDDF61G

POJOKREDAKSI.COM

Related Posts

Pojok WA